Minggu, 26 April 2015

Candi ABANG
Apakah anda mnegenal dengan Candi Abang/ Bukit Teletubies ?

Desa wisata ini menawarkan keindahan alam nuansa pedesaanyang memiliki perbukitan. Sehingga bagi anda yang ingin menikmati desa dengan nuansa perbukitan dan bisa menikmati keindahan alam pertanian dan perkebunan, Desa Wisata Candi Abang memang pilihan tepat.
Tidak hanya itu, desa wisata ini juga terdapat lokasi bersejarah seperti Candi Abang yang merupakan peninggalan Hindu, Goa Sentana/Sentono, Goa Jepang dan juga Gunung Suru yang menurut mitos adalah istana tuyul. Peninggalan-peninggalan sejarah tadi menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
Candi Abang.Lokasi Candi Abang berada di Dusun Sentonorejo, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Sleman Yogyakarta.Candi Abang berada di puncak bukit di pinggir jalan desa, 1,5 kilometer sebelah Barat Jalan Raya Jogja-Piyungan
INGIN KE CANDI ABANG : Lewat Jalan BLOK O ketemu prapatan belok kir ikutin jalan nanti ada tanda petunjuknya dri blok sekitaran 20 menit 
Atau bisa juga candi abang ini ada di sebelah selatan candi boko dan ingin refreshing di candi abang cuman bayar parkir aja dri parikiran itu tinggal jalan kaki 100 meter
 Ini posisi terlihat dri bawah bukit candi abang dari keadaan di bawah cuacanya sangat panas blm anda nanti di saat naik ke puncak
Dan ini terlihat dri atas candi abang atau bukit dan diatas terlihata pemandangan yg sangat indah sampai di puncak candi abang terasa seperti ac alami


Candi Ijo 
Candi Ijo adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu berada 4 kilometer arah tenggara dari Candi Ratu Boko atau kita-kira 18 kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini diperkirakan dibangun antara kurun abad ke-10 sampai dengan ke-11 Masehi pada saat zaman Kerajaan Medang periode Mataram.
Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan,Kabupaten  Sleman,Yogyakarta
INGIN KE CANDI IJO : dri arah bandara adisutcipto ke timur terus sampek ketemu prapatan prambanan belok kanan ikutin jalan nanti ada tanda petunjuk menju belok kiri dan ikutin jalan smpk ketemu tanda petunjuk lgi ikutin jalannya dan hati hati untuk sepeda motor waspada klo gg hati hati akan mengalami keboran ban hahaha :D dan membayar parkir dan masuk ke candi 

Add caption

Di bawah candi ijo ada candi yg berdiri sendiri yg ada berada di posisi belakang :)








sebelum atau sesudah naik turun dri candi anda akan melihta sekeliling anda banyak orang pacaran :p
ini di saat posisi di atas ngefoto pojok pojok lagi mumpung keadaan sepi 
pemandangan dri atas luar biasa pemandanganya 

Minggu, 02 Februari 2014

Sabtu, 22 Januari 2011

Asal Mula Istilah "Bus Cepat"

Asal Mula Istilah "Bus Cepat" 





 

 

Era pertengahan tahun 70an label PO hanya dua macam, polos tanpa "Ekspress", atau diembel embeli ekspress. Istilah ekspress tidak mengacu pada bumel (bus ngompreng) atau tidak tapi untuk menunjukkan bahwa bus tsb berjalan cepat.

Sebetulnya banyak bus malam yang cukup "pedhe" tanpa embel-embel ekspres di labelnya. Tapi bus bumel ada juga yang pakai label ekspress misalnya, Agung Ekspress, Belalang Ekspress dan lainnya.
Kenapa label ekspress kemudian lenyap? Berawal dari keprihatinan gubernur Jateng Soepardjo Roestam (alm) tentang beberapa kecelakaan bus malam yang merenggut korban jiwa cukup banyak. Saat itu walau tabrakan bus relatif jarang karena busnya sedikit, tapi sekalinya ada kejadian korban tewas bisa banyak, maklum masih satu jalan dua arah tanpa pemisah.
Menurut pak Pardjo salah satu hal yang memicu supir bus untuk ngebut adalah label "ekspress" pada busnya. Kalau bus ekspress supirnya santai penumpang protes dan "ngomporin" supir agar jalan lebih cepat. Kemudian pak Pardjo mengeluarkan instruksi bahwa semua bus yang lewat Jateng tidak boleh menggunakan label "ekspress". Ternyata aturan ini sangat manjur sehingga label "ekspress" lenyap sampai saat ini.
Beberapa PO yang terlanjur populer dengan label "ekspress" terpaksa mengubah jadi "cepat", misalnya JET (Jogja Express Transportation), BE (Bandung Express) jadi BC, tapi kemudian kembali lagi ke BE.
Perubahan label dari "ekspress" ke "cepat" ternyata "diterima" oleh pak Pardjo. Buktinya setelah beliau naik jadi Mendagri tidak ada larangan penggunaan label "cepat". Karena pengertian cepat disini bukan cepat karena ngebut tapi cepat karena tidak ngompreng dan berhenti di banyak terminal.