Sabtu, 22 Januari 2011
Asal Mula Istilah "Bus Cepat"
Asal Mula Istilah "Bus Cepat" |
Era
pertengahan tahun 70an label PO hanya dua macam, polos tanpa
"Ekspress", atau diembel embeli ekspress. Istilah ekspress tidak
mengacu pada bumel (bus ngompreng) atau tidak tapi untuk menunjukkan
bahwa bus tsb berjalan cepat.
Sebetulnya banyak bus malam yang cukup "pedhe" tanpa embel-embel ekspres di labelnya. Tapi bus bumel ada juga yang pakai label ekspress misalnya, Agung Ekspress, Belalang Ekspress dan lainnya.
Kenapa label ekspress kemudian lenyap? Berawal dari keprihatinan
gubernur Jateng Soepardjo Roestam (alm) tentang beberapa kecelakaan bus
malam yang merenggut korban jiwa cukup banyak. Saat itu walau tabrakan
bus relatif jarang karena busnya sedikit, tapi sekalinya ada kejadian
korban tewas bisa banyak, maklum masih satu jalan dua arah tanpa
pemisah.
Menurut pak Pardjo salah satu hal yang memicu supir bus untuk ngebut
adalah label "ekspress" pada busnya. Kalau bus ekspress supirnya santai
penumpang protes dan "ngomporin" supir agar jalan lebih cepat. Kemudian
pak Pardjo mengeluarkan instruksi bahwa semua bus yang lewat Jateng
tidak boleh menggunakan label "ekspress". Ternyata aturan ini sangat
manjur sehingga label "ekspress" lenyap sampai saat ini.
Beberapa PO yang terlanjur populer dengan label "ekspress" terpaksa
mengubah jadi "cepat", misalnya JET (Jogja Express Transportation), BE
(Bandung Express) jadi BC, tapi kemudian kembali lagi ke BE.
Perubahan label dari "ekspress" ke "cepat" ternyata "diterima" oleh pak
Pardjo. Buktinya setelah beliau naik jadi Mendagri tidak ada larangan
penggunaan label "cepat". Karena pengertian cepat disini bukan cepat
karena ngebut tapi cepat karena tidak ngompreng dan berhenti di banyak
terminal.
|


.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar